Ini kisah seorang pemuda berusia 21 tahun
yang menimba ilmu di kota Bandung. Ia putra terakhir dari sepasang pedagang di
daerah agraris Karawang. Kedua kakaknya telah menjadi ‘orang’. Mereka telah
menemukan identitasnya masing-masing. Bahkan telah menemukan pasangan hidupnya.
Kakak pertama seorang karyawan di perusahaan biskuit. Kakak kedua adalah guru
di sebuah pondok pesantren di Purwakarta.
Ibu selalu bilang, ia tidak ingin dulu
tutup usia sebelum melihat si bungsu wisuda. Ibu ingin menuntaskan amanatnya
terlebih dahulu. Menjadikan anaknya menjadi ‘orang’.
Pemuda itu adalah aku. Namaku Zidan. Awal
tahun baru ini kuliahku memasuki semester 6. Semester yang jika dalam sebuah
kompetisi adalah semi final. Tantangan kemalasan dan kejemuan akan semakin
hebat menggoda. Seperti pepatah bilang, semakin tinggi pohon tumbuh, semakin
kencang angin yang menerpa.
Pun dengan usiaku. Bagiku, usiaku
sekarang adalah usia krusial. Usia yang menentukan masa depanku kelak, meski sebenarnya
sebelum usia ini pun menentukan. Karena masa depan dibangun dari
potongan-potongan kehidupan masa lalu dan sekarang.
Sesuram apa pun masa lalumu, masa depanmu
masih suci. Kalimat itulah yang membuatku kini masih
semangat menjalani hari. Selama masih ada harapan baik, kupikir Tuhan akan senantiasa
berbaik hati memberi hambanya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
InsyaAllah. Aamiin.
(22-1-2016)
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Prolog"
Posting Komentar